Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 18 Maret 2011

Pendidikan Islam di Indonesia


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
FAKULTAS TARBIYAH SURABAYA
PENDIDKAN AGAMA ISLAM
  TAHUN 2010
Pendidikan Islam di Indonesia

A.    Pendahuluan
Sebelum islam datang ke Indonesia dalam abad XIII, maka telah terjelma kerajaan-kerajaan yang susunan pemerintahannya, corak masyarakatnya, alam pikirannya banyak di pengaruhi Hinduisme dan Budhisme. Kerajaan-kerajaan itu, terdapat di selat Malaka, di Sumatera Utara, di Kalimantan Utara dan Timur. Mereka memiliki susunan ekonomi yang tergantung pada perdagangan laut.
Di samping negara-negara pesisir, tumbuh pula di pedalaman kerajaan-kerajaan yang hidup dari pertanian. Antara kerajaan pesisir dan pedalaman selalu terdapat pertentangan karena perebutan kekuasaan. Dalam pertentangan politik itu unsur agama belum turut memegang peranan selama kerajaa-kerajaan tadi masih diperintah oleh raja-raja yang menganut agama Hindu Budha. Akan tetapi setelah proses peng-Islaman dimulai pada akhir abad XIII sejak dari Sumatera Utara di kerajaan Pasai, Samudera di selat Malaka, terus hingga ke pantai  Utara pulau Jawa, maka unsur agama masih memegang peranan.
Eksistensi pendidikan Islam di Indonesia adalah suatu kenyataan yang sudah berlangsung sangat panjang dan sudah memasyarakat. Pada masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, pendidikan Islam diselenggarakan oleh masyarakat sendiri dengan mendirikan pesantren, sekolah dan tempat latihan-latihan lain. Setelah merdeka, pendidkan Islam dengan ciri khasnya madrasah dan pesantren mulai mendapatkan perhatian dan pembinaan dari pemerintah Republik Indonesia.
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan generasi penerus bangsa yang siap melanjutkan estafet perjuangan bangsa Indonesia. Dalam perkembangan sejarah, pendidikan di Indonesia telah berlangsung sejak sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI. Dalam banyak referensi desbutkan bahwa tonggak-tonggak sejarah pendidikan di Indonesia dimulai dari munculnya organisasi Budi Utomo (1908) Kebangkitan Nasional (1928), masa kemerdekaan (1945-1955), masa orde lama (1955-1967), masa orde baru (1967- 1997) hingga masa reformasi saat ini.
Pendidikan islam di Indonesia tidak dapat lepas dari apa yang diilustrasikan pada kebijakan-kebjakan pemerintah kolonial Belanda dan pemerintah Jepang yang telah menjajah bangsa Indonesia selama berabad-abad. Oleh karena itu periodisasi sejarah pedidikan islam dibagi dalam dua garis besar, yaitu periode sebelum kemerdekaan dan periode sesudah kemerdekaan.
Dalam perkembangannya, pendidikan islam di Indonesia tidak lepas dari permasalahan bangsa baik sosial maupun politik. Berbagai macam kritik dan saran ditujukan kepada pendidikan islam di Indonesia untuk membangu pendidikan islam yang lebih baik.

B.     Kedatangan Islam di Indonesia
Sejauh menyangkut kedatangan islam di nusantara, terapat diskusi dan perdebatan panjang  di antara para ahli mengenai tiga masalah pokok: Tempat asal kedatangan islam, para pebawanya, dan waktu kedatangannya. Berbagai teori penbahasan yang berusaha menjawab ketiga masalah pokok ini jelas belum tuntas, tidak hanya karena kurangnya data yang dapat mendukung suatu teori tertentu menekankan hanya aspek-aspek khusus dari ketiga masalah pokok, sementara mengabaikan aspek-aspek lainnya. Karena itu, kebanyakan teori yang ada dalam segi-segi tertentu gagal menjelaskan kedatangan islam, konversi agama yang terjadi, dan proses-proses islamisasi yang terlibat di dalamnya.
Sejumlah sarjana, kabanyakan asal Belanda, memegang teori bahwa asal muasal islan di Nusantara ialah anak benua India, bukan Persia atau Arabia. Sarjana utama yang mengemukakan teori ini adalah Pijnappel, ahli dari Universitas Leiden. Dia mengaitka asal muasal islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar. Menurut dia,adalah orang-orang bermadzhab syafi’i yang bermigrasi dan menetap di wilayah India tersebut yangkemudian membawa islam ke Nusantara.
Teori ini kemudian dikambangkan snouck Hurgronje yang berhujah, begitu islam berpijak kokoh di beberapa kota pelabuha anak benua India, muslim Deccan banya di antara mereka tinggal di sana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dengan Nusantara datang ke dunia Melayu Indonesia sebagai penyabar islam pertama. Baru kemudian mereka di susul orang-orang Arab kenamyakan keturunan Nabi Muhammad SAW, karena menggunakan gelar sayyid atau syarif  yang menyelesaikan penyebaran islam di Nusantara.
Agama Islam tersebar di Asia Tenggara dan di kepulauan Indonesia sejak abad XII atau XIII. Sekarang di sejumlah daerah yang telah berabad-abad memeluknya, nama mereka yang dianggap berjasa dalam menyebarkan agama itu disebut dengan hormat dan khidmat. Masuk Islamnya berbagai suku bangsa di kepulauan Indonesia ini tidak berlangsung dengan jalan yang sama.suatu kenyataan yang sudah pasti ialah, di Sumatera utara dan Aceh, yang sekarang ini para penguasa di beberapa kota pelabuhan penting sejak paruh kedua abad XIII sudah menganut Islam.
Dari permulaan agama Islam sudah berpengaruh pada golongan menengah, kaum pedagang, dan buruh di bandar-bandar (hal ini terjadi hampir di mana-mana pun agama Islam berkembang, lebih-lebih di Asia Tenggara dan Nusantara). Seperti lazimnya, pelaut menyebarkan agama Islam di antara teman-teman sederajatnya. Rasa persaudaraan dalam antarbangsa itu, yang pada asasnya tidak mengakui adanya perbedaan keturunan, golongan, dan suku di antara para pemeluknya, ternyata menarik para pedagang dan pelaut, yang berbeda-beda tempat asalnya serta beragam adat istiadat dan cara hidupnya. Dalam pergaulan hidup masyarakat golongan menengah yang berdagang ini agama Islam yang memejukan sifat sama rata itu menciptakan tata tertib dan keamanan seraya menonjolkan kerukunan kaum Islam.

1.      Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Sumatera
a.       Samudera Pasai
       Kerajaan pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan kembar. Kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh. Kemunculannya sebagai kerajaan Islam diperkirakan mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M sebagai hasil dari proses Islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah di singgahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke-7, ke-8 M dan seterusnya.Bukti berdirinya kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13 M itu didukung oleh adanya nisan kubur terbuat dari granit asal Samudera Pasai. Dari nisan itu dapat diketahui dapat diketahui ahwa raja pertama kerajaan itu meninggal pada bulan Ramadhan tahun 696 H yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M. Malik al-Saleh, raja pertama itu merupakan pendiri kerajaan tersebut.
b.      Aceh Darussalam
        Kerajaan Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama kabupaten Aceh besar. Di sini pula terletak ibu kotanya. Kurang begitu diketahui kapan sebenarnya berdiri. Anas Mahmud berpendapat, kerajaan ini sebenarnya berdiri pada abad ke-15 M di atas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar syah.




2.      Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa
a.       Demak
       Perkembangan Islam di Jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya kerajaan Majapahit. Hal itu memberi peluang kepada penguasa-penguasa Islam di pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yang independent. Di bawah pimpinan sunan Ampel Denta, Wali songo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak, kerajaan pertama di Jawa, dengan gelar Senopati jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayyidin Panatagama.
       Raden Patah menjalankan pemerintahannya,dalam persoalan-persoalan agama, dibantu oleh para ulama, Wali songo. Sebelumnya Demak yang masih bernama Bintoro merupakan daerah asal Majapahit yang diberikan Raja Majapahit kepada Raden Patah. Daerah ini lambat laun menjadi pusat perkembangan agama Islam yang diselenggarakan  oleh para wali.
b.      Pajang
       Kesultanan Pajang adalah pelanjutan dan dipandang sebagai pewaris kerajaan Islam Demak. Kerajaan yang terletak di daerah Kartasura sekaran itu merupakan karajaan Islam pertama yang terletak di daerah pedalaman pulau Jawa. Sultan atau raja pertama kesultanan ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Penggiring, di lereng gunung Merapi. Oleh Raja Demak ketiga, Sultan Trenggono, Jaka Tingkir diangkat menjadi penguasa di Pajang, setelah sebelumnya dikawinkan dengan anak perempuannya. Pada tahun 1546 Sultan Demak meninggal dunia. Setelah itu muncul kekacauan di ibu kota. Konon Jaka Tingkir dengan segera mengambil alih kekuasaan. Setelah menjadi raja yang paling berpengalamn di Pulau Jawa ia bergelar Sultan Adiwijaya.
c.       Mataram
       Awal dari kerajaan Mataram adalah ketika Sultan Adiwijaya dari Pajang meminta bantuan kepada Ki Pemanahan yang berasal dari pedalaman untuk menghadapi dan menumpas pemberontakan Aria Penangsang.
     Pada tahun 1577 M. Ki Gede Peanahan menempati istana barunya di Mataram pertama, setelah pangeran Benawa, anak Sultan Adiwijaya , menawarkan kekuasaan atas Pajang kepada Senapati. Meskipun Senapati menolak dan hanya meminta pusaka kerajaan dalam tradisi Jawa, penyerahan benda-benda pusaka itu sama artinya dengan penyerahan kekuasaan.
       Senapati meninggal dunia tahun 1601 M dan digantikan oleh puteranya Seda Ing Krapyak yang memerintah sampai tahun 1613. Pada tahun 1619, seluruh Jawa Timur praktis sudah berada di bawah kekuasaannya.
d.      Cirebon
       Kesultanan Cirebon adalah kerajaan pertama Islam di Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Di awal abad ke-16, cirebon masih merupakan daerah kecil di bawah kekuasaan Paku Pajajaran. Raja Pajajaran hanya menempatkan juru labuan di sana, bernama pangeran Walangsungan, seorang tokoh yang mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran. Ketika memajukan Cirebon ia sudah menganut agama Islam. Disebut oleh Thomas Pires, Islam sudah ada di Cirebon sekitar 1470-1475 M. Akan tetapi , orang yang sudah berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kerajaan adalah Syarif Hidayat yang terkenal dengan Sunan Gunung Jati, pengganti dan keponakan dari pangeran Walangsungan. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten.
e.       Banten
       Sejak sebelum zaman Islam, ketika masih berada di bawah kekuasaan raja-raja Sunda (dari Pajajaran atau mungkin sebelumnya), Banten sudah menjadi kota yang berarti. Dalam tulisan sunda kuno, cerita Parahyangan disebut-sebut nama Wahanten Girang. Nama ini dapat dihubungkan dengan Banten. Pada tahun 1524 atau1525, Sunan Gunung Jati dari Cirebon meletakkan dasar bagi pengembangan agama dan kerajaan Islam serta bagi perdagangan orang-orang Islam di sana.



C.     Periodisasi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
Pendidikan islam sama satuannya dengan islam itu sendiri, dan tentu saja tidak akan terlepas dari sejarah islam pada umumnya. Karena itulah periodisasi sejarah pendidikan islam berada dalam periode-periode sejarah islam itu sendiri.
Sementara itu kegiatan endidikan islam di Indonesia yang lahir dan tumbuh serta berkembang bersamaan dengan masuknya dan berkembangnya islam di Indonesia. Oleh karena itu, dalam rangka melacak sejarah pendidikan islam di Indonesia dengan periodisasinya baik bagi pemikiran, isi maupun pertumbuhan organisasi dan kelembagaannya serta fase-fase penting yang dilalui, secara garis besar fase tersebut dapat dibagi menjadi:

1.      Periode sebelum kemerdekaan Indonesia
Sejarah pendidikan islam di Indonesia sebelum kemerdekaan meliputi masa awal islam di Indonesia, masa penjajahan Belanda(sebelum 1900,masa peralihan,sesudah1909), dan masa penjajahan Jepang hingga menjelang kemerdekaan.
2.      Periode sesudah kemerdekaan Indonesia
Sejarah pendidikan islam di Indonesia sesudah kemerdekaan terbagi dalam dua periode :
a.       Periode kemerdekan I (orde lama)
b.      Periode orde baru

D.     Sejarah dan Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia
Berangkat atas periodisasi pendidikan islam di atas, maka penulis akan membagi sejarah dan dinamika pendidikan islam di Indonesia ke dalam dua garis besar
1.      Periode sebelum kemerdekaan Indonesia
Sejak Islam masuk ke Indonesia, pendidikan Islam telah ikut mengikuti pertumbuhan dan perkembangan, karena melalui pendidikan Islam itulah, transmisi dan sosialisasi ajaran Islam dapat dilaksanakan dan dicapai hasilnya .Keberhasilan transmisi dan sosialisasi ajaran Islam salah satunya ditentukan oleh hadirnya lembaga pendidikan Islam, di samping melalui pendekatan politis, kultural, perkawinan, dan perdagangan. Kita mengenal Surau di Sumatera Barat, Rangkang dan Meunesah di Aceh, Langgar di Jakarata,  Tajuk di Jawa Barat, Pesantren di Jawa,dan lain-lainnya.
Pendidikan dan pengajaran agama islam dalam bentuk pengajian Al Qur’an dan pengajian kitab yang di selenggarakan di rumah-rumah, surau, masjid, pesantren dan lain-lain. Pada perkembangan selanjutnya mengalami perubahan bentuk baik dari segi kelembagaan, materi pengajaran, metode maupun struktur organisasinya sehingga melahirkan suatu betuk yang baru yang disebut madrasah.
Belanda cukup banyak mewarnai perjalanan sejarah di Indonesia. Kedatangan  Belanda di satu pihak memang telah membawa kemajuan teknologi, tetapi kemajuan tersebut hanyalah untuk meningkatkan hasil penjajahannya. Begitu pula dengan pendidikan mereka telah memperkenalkan sistem dan metodologi baru yang tentu saja efektif, namun semua itu dilakukan untuk meghasilkan tenaga-tenaga yang dapat membantu segala kepentingan penjajah. Dan kenyataannya Belanda mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan memeras tenaga sumber daya alam dan pembdohan terhadap penduduk pribumi. Apa yang disebut sebagai emberuan pendidikan adalah westernisasi dan kristenisasi untuk kepentingan barat dan nasrani. Dua motif inilah yang mewarnai kebijaksanaak penjajahan Belanda di Indonesia yang berlangsung selama tiga setengah abad.
Pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan sekolah-sekolah modern menurut sistem persekolahan di dunia barat, sedikit banyak mempengaruhi sistem pendidikan di Indonesia, yaitu pesantren.npadahal diketahui bahwa pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan formal do Indonesia sebelum adanya kolonial Belanda, justru sangat berbeda dalam sistem pengelolaannya dengan sekolah yang diperkenalkan oleh Belanda.
Dengan terbukanya kesempatan yang luas bagi msyarakat umum untuk memasuki sekolah-sekolah yang diselenggarakan secara tradisional oleh kalangan islam, dan mendapat tantangan dan saingan berat dengan didirikannya sekolah Belanda yang dikelola secara modern oleh Belanda yang berisikan materi tentang keterampilan duniawi karena untuk sekolah pesantren memerlukan biaya yang tinggi. Sementara pada sekolah Belanda hanya kalangan orang-orang tertentu yang bisa mengikutinya, sedangkan pada kalangan bawah tidak bisa mendapatkan pendidikan, sehingga ada sebagian di antara rakyat Indonesia yang masih tidak bisa baca tulis, karena tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.
Dalam hal ini muncul kesadaran dari pendidikan islam. Ulama-ulama yang waktu itu juga menyadari bahwa sistem pendidikan tradisional dan langgar tidak lagi sesuai dengan iklin pada masa itu. Maka dirasakanlah akan pentingnya pemberian pendidikan secara teratur di madrasah  atau sekolah. Muhammad Abduh dan Rasyid Ridhodengan pembaruan di bidang sosial dan kebudayaan yang berdasarkan tradisi islam al qur’an dan hadist yang dibangkitkan kembali dengan menggunakan ilmu-ilmu barat. Dengan memasukkan jiwa penggerak untuk maju ke dalam kurikulum, maka muncullah tokoh-tokoh pembaruan di Indonesia yang mendirikan sekolah islam dimana-mana.
Adapun ciri-ciri pendidikan islam sebelum tahun 1900:
a.       Pelajaran diberikan satu demi satu
b.      Ilmu sorof didahulukan dari ilmu nahwu
c.       Buku pelajaran pada mulanya dikarang oleh ulama indonesia dan diterjrmahka dalam bahasa daerah setempat.
d.      Kitab yang digunakan pada umumnya ditulis tangan
e.       Pelajaran suatu ilmu hanya diajarkan dalam satu macam buku saja.
f.       Tokoh buku belum ada, yang ada hanyalah menyalin buku dengan tulisan tangan
g.      Karena terbatasnya bacaan, materi ilmu agama sangat sedikit.
h.      Belum lahir aliran baru dalam islam.

Dalam tahun 1905, pemerintah mengeluarkan suatu peraturan yang mengharuskan para guru agama islam memiliki izin khusus untuk mengajar tentang pendidikan islam. Izin ini mengemukakan secara terperinci sifat pendidikan yang dilaksanakan, dan guru agama yang bersangkutan secara periodik kepada kepala daerah yang bersangkutan.
Ciri-ciri elajaran agama pada masa peralihan(tahun 1900)
a.       Pelajaran untuk dua sampai enam ilmu dihimpun secara sekaligus
b.      Ilmu nahwu didahulukan dari ilmu sorof
c.       Buku pelajaran semuanya karangan ulama islam kuno dan dalam bahasa Arab
d.      Buku-buku semuanya dicetak
e.       Suatu ilmu diajarkan dari beberapa macam buku
f.       Lahirnya aliran baru dalam islam seperti yang dibawa oleh majalah Al Manar di Mesir
Terjadinya pembaruan di Indonesia juga dipengaruhi oleh adanya hubungan dengan luar negeri, melalui media masa seperti majalah-majalah yang isinya berupa motivasi untuk terus melakukan pembaruan dan membakar semangat para tokoh-tokoh pembaruan di Indonesia, walaupun berbagai usaha yang dilakukan belanda agar Indonesia tidak menjalin kontak dengan luar negeri, termasuk melarang masuknya buku-buku atau majalah-majalah yang berisikan tentang ide-ide pembaruan.
Dengan demikian terlihat jelas adanya perbedaan pelaksanaan pendidikan islam pada masa peralihan dengan masa sebelum tahun 1900, di mana kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda sedang ketat-ketatnya, dan sedang gencar pempropagandakan antara golongan pribumi dengan priayi atau pejabat bahkan beragama kristen.
Pada tahun 1926 diadakan kongres islam di Bogor,yang tidak mempersoalkan peraturan 1905 lagi, karena telah diganti dengan peraturan baru yaitu ordonasi guru tahun 1925. Menurut peraturan ini,bupati tidak diperlukan untuk memberikan pelajaan agama, tetapi guru agama islam hendaklah memberitahukan kepada pejabat yang bersangkutantentang maksud mereka mngajar. Pemberitahuan tersebut harus disampaikan dalam formulir khusus yang diberikan oleh kepala pemerintah setempat. Guru-guru juga harus membuat daftar murid serta berbagai keterangan mengenai kurikulum dan segalanya dalam bentuk tertentu.
Selnjutnya pada tahun 1932keluar pula peraturan yang dapat membrantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah, yang disebut dengan sekolah liar. Peraturan ini dikeluarkan setelah munculnya gerakan nasionalisme islamisme pada tahun 1928 berua sumpah pemuda. Selain itu untuk lingkungan kehidupan agama kristen di Indonesia yang selalu menghadapi reaksi dari rakyat, dan untuk menjaga dan menghalangi masuknya pelajaran agama di sekolah umum yang kebanyakan muridnya beragama islam, maka pemerintah mengeluarkan peraturan yang disebut netral agama.
Dengan begitu banyaknya perlawanan dari berbagai pihak Indonesia secara tegas dan pasti, maka bulan Februari 1933 Belanda menarik kembali ordonasi tersebut “untuk sementara” dan menggantinya dengan sebuah keputusan yang menetapkan syarat-syarat yang lebih lunak dalam memberikan pelajaran. Dengan demikian, peraturan-peraturan yang dikeluarkan pemerintah bertujuan untuk menghambat  dan menghalang-halangi perkembangan dan pembaruan pemikiran islam di Indonesia.
Setelah Belanda angkat kaki dari bumi Indonesia, maka muncul pergerakan Jepang. Jepang tidak begitu ketatnya terhadap pendidikan islam di Indonesia, Jepang memberikan toleransi yang banyak terhadap pendidikan islam di Indonesia, kesetaraan pendidikan penduduk pribumi sama dengan penduduk atau anak-anak para penguasa, bahkan Jepang banyak mengajarkan ilmu-ilmu beladiri kepada pemuda Indonesia.
Sikap penjajah jepang terhadap pendidikan islam ternyata lebih lunak, sehingga ruang gerak pendidikan islam lebih bebas ketimbang penjajahan kolonial belanda, karena Jepang tidak terlalu memikirkan kepentingan agama.
Keadaan agak berubah, karena ada kemajuan dalam pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah Umum. Hal ini disebabkan karena mereka mengetahui bahwa sebagian besar bangsa Indonesia adalah pemeluk agama Islam, maka untuk menarik simpati dari pemeluk agama Islam maka Jepang menaruh perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan agama Islam.
Terlebih lagi pada awalnya, pemerintah Jepang menampakan diri seakan-akan membela kepentingan Islam yang merupakan siasat untuk kepentingan perang Dunia II. Masalahnya Jepang tidak begitu menghiraukan kepentingan agama. Untuk mendekati umat Islam Jepang menempuh beberapa kebijakan diantaranya pada jaman Jepang dibentuknya KUA, didirikanya Masyumi dan pembentukan Hisbullah.
Pada masa pendudukan Jepang, ada satu hal istimewa dalam dunia pendidikan, yaitu sekolah-sekolah telah di selenggarakan dan dinegerikan meskipun sekolah-sekolah suasta lain seperti Muhammadiyah, Taman Siswa dan lain-lain diiziankan terus berkembang dengan pengaturan dan diselenggarakan oleh penduduk Jepang.
Di Sumatra, organisasi-organisasi Islam menggabungkan diri dalam majelis Islam tinggi. Kemudian majelis tersebut mengajukan usul kepada pemerintah Jepang, agar di sekolah-kolah pemerintah diberikan pendidikan agama sejak sekolah rakyat tiga tahun dan ternyata usul tersebut disetujui dengan syarat tidak diberikan anggaran biaya untuk guru-guru agama.
Mulai saat itu maka pendidikan agama secara resmi boleh diberikan di sekolah-kolah pemerintah, namun hal ini hanya berlaku di pulau Sumatra saja. Sedangkan di daerah-daerah lain masih belum ada pendidikan agama di sekolah-sekolah pemerintah, yang ada hanya pendidikan budi pekerti yang didasarkan atau bersumber pada agama juga.

2.      Periode Sesudah Kemerdekaan Indonesia
a.       Orde Lama
Setelah kemerdekaan Indinesia tanggal 17 Agustus 1945, kemudian pada tanggal 3 Januari 1946 dibentuklah Departemen Agama yang akan mengurus masalah keeragamaan di Indonesia termasuk di dalamnya pendidikan. Namun pada perkembangan selanjutnya, madrasah walaupun sudah berada di bawah naungan Depag tetapi hanya sebatas pembinaan dan pengawasan.
                        Pada bulanDesember 1946 dikeluarkan peraturan bersama dua mentri yaitu menteri agama dan menteri pendidikan dan pengajaran yang menetapkan bahwa pendidikan agama diberikan mulai kelas IV SR(sekolah rakyat=sekolah dasar) sampai kelas VI. Pada masa itu keadaan keamanan di Indonesia belum berjalan dengan semestinya. Daerah-daerah di luar jawa masih banyak yang memberikan pelajaran agama mulai kelas I SR. Pemerintah membentuk Majelis Pertimbangan Pengajaran Agama Islam pada tahun 1947, yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara dari departemen.
                        Pada tahun 1950, pendidikan agama makin disempurnakan dengan dibentuknya panitia bersama yang dipimpin Prof. Mahmud Yunus dari Depag, Mr. Hadi dari departemen P&K, hasil dari panitia itu adalah SKB yang dikeluarkan pada bulan Januari 1951. Isinya adalah :
a.       Pendidikan agama yang diberikan mulai kelas IV SR
b.      Di daerah yang masyarakat agamanya kuat, maka endidikan agama diberikan mulai kelas I SR dengan catatan bahwa pengetahuan umunya tidak boleh berkurang dibandingkan dengan sekolah lain  yang pendidikan agamanya diberikan mulai kelas IV SR.
c.       Di sekolah lanjutan pertama dan tingkat atas,diberikan pendidikan agama sebanyak 2 jam seminggu.
d.      Pendidikan agama diberikan kepada murid-murid sedikitnya 10 orang dalam satu kelas dan mendapat izin dari orang tua.
e.       Pengangkatan guru agama, biaya pendidikan agama, dan materi pendidikan agama ditanggung oleh Departemen agama.
Untuk menyemprnakan kurikulumnya, maka dibentuk panitia yang dipimpin oleh KH. Imam Zarkasyi dari pondok Gontor Ponorogo. Kurikulum tersebut disahkan oleh Menteri Agama pada tahun 1952.

b.      Orde Baru
Agenda awal pemerintah(menteri agama) pada masa orde baru  adalah upaya melakukan formalisasi dan strukturisasi madrasah. Proses penegerian sejumlah madrasah swasta tampaknya didorong oleh amino masyarakat yang cukup tinggi, yang pada satu sisi ingin mendalami ajaran islam itu sendiri, namun di sisi lain berkainginan untuk sejajar dengan sekolah-sekolah umum yang sudah berstats negeri, sehingga dengan demikian output lembaga madrasah juga dapat memiliki peluang dan kesempatan untuk duduk dan memegang jabatan pada instansi-instansi yang ada. Sementara upaya strukturisasi kurikulum dengan emasukkan mata pelajaran pendidikan agama tampaknya didorong oleh kainginan melahirkan output yang tidak “hampa” dari nilai-nilai religius.
Namun dirasakan pendidikan islam masih tersisih dari sistem Pendidikan Nasional. Keadaan ini berlangsung sampai dengan dikeluarkannya SKB 3 Menteri tanggal 24 maret 1975, yang berusaha mengembalikan ketertinggalan pendidikan islam untuk memasuki mainstream pendidikan Nasional. Kabijakan ini membawa pengaruh yang sangat besar bagi madrasah, karena :
1)      Ijazah madrasah dapat mempunyai nilai yang sama dengan ijazah sekolah umum yang setingakat.
2)      Lulusan madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum setingkat lebih atas.
3)      Siswa madrasah dapat pindah ke sekolah umum yang setingkat.
Setelah SKB 3 Menteri, usaha pengembangan madrasah selanjutnya adalah dikeluakannya SKB Menteri P&K nomor 299/u/1984 dengan Menteri agama nomor 45 tahun 1984, tentang Pengaturan Pembakuan Kurikulum Sekolah Umum dam Sekolah Madrasah yang isinya antaralain adalah mengizinkan kepada lulusan madrasah untuk melanjutkan ke sekolah-sekola umum yang lebih tinggi.
Sejak dikeluarkanya SKB 3 menteri  yang dilanjutkan dengan SKB 2 Menteri, secara formal madrasah sudah menjadi sekolah umum yang menjadikan agama sebagai ciri khas kelembagaannya. Kebijakan pemerintah dalam 2 SKB di atas menimbilkan dilema baru bagi madrasah. Di satu pihak materi pengetahuan umum bagi madrasah secara kuantitas dan kualitas mengalami peningkatan, tetapi di pihak lain penguasaan murid terhadap ilmu agama menjadi serba tanggung, sehingga untuk mencetak ulama dari madrasah merupakan suatu hal yang terlalu riskan.
Menyadari kondisi itu, pemerintah berusaha mengadakan terobosan-terobosan, sehingga muncul keinginan pemerintah untuk mendirikan MA bersifat khusus yang kemudian dikenal dengan nama Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) yang sekarang dikenal dengan MAK.
Dalam hal kurikulum, MAPK mempunyai perbandingan 70% agama dan 30% umum, secara kurikuler dimaksudkan untuk mengembangkan program pembibitan calon0calon ulama, sehingga penyelenggaraan MAPK merupakan program intensifikasi pendidikan melalui sistem asrama dan pengambangan keahiran berbahasa Arab dan Inggris dan ditambah dengan bimbingan belajar untuk kitab kuning pada sore hari, sehingga kegiatan belajar mengajar cukup padat, baik intra maupun ekstrakulikuler.

E.      Kesimpulan
Pendidikan Islam yang dalam hal ini dapat diwakili oleh pendidikan meunasah atau dayah, surau, dan pesantren diyakini sebagai pendidikan tertua di Indonesia. Pendidikan Pendidikan ketiga institusi di atas memiliki nama yang berbeda, akan tetapi memiliki pemahaman yang sama baik secara fungsional, substansial, operasional, dan mekanikal. Secara fungsional trilogi sistem pendidikan tersebut dijadikan sebagai wadah untuk menggembleng mental dan moral di samping wawasan kepada para pemuda dan anak-anak untuk dipersiapkan menjadi manusia yang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara.
Sebelum masuknya penjajah Belanda, sistem pendidikan pribumi tersebut berkembang dengan pesat sesuai dengan perkembangan agama Islam yang berlangsung secara damai, ramah, dan santun. Perkembangan tersebut pada dasarnya merupakan bukti bagi kesadaran masyarakat Indonesia akan sesuainya model pendidikan Islam dengan nurani masyarakat dan bangsa Indonesia saat itu. Kehidupan masyarakat terasa harmonis, selaras, dan tidak saling mendominasi.
            Hanya saja sejak masuknya bangsa penjajah baik Spanyol, Portugis, dan Belanda dengan sifat kerakusan akan kekayaan dan materi yang luar biasa menjadikan masyarakat Indonesia tercerai berai.
Pada masa penjajahan Jepang --yang merupakan Saudara Tua (karena sama-sama di benu Asia dengan Indonesia)—pendidikan tradisional mulai mendapatkan angin kemajuan. Namun, semua itu tidak ada artinya karena memang penjajahan Belanda sebagai salah satu bangsa Barat atau lebih dikenal dengan bangsa Barat telah menancapkan ideologi, politk, ekonomi, budaya, dan moralitas kepada masyarakat pribumi, maka angina segar tersebut tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal. Dengan demikian pendidikan tradisional menjadi sangat sulit untuk kemabli lagi ke posisi semual, yakni sebelum adanya penjajahan bangsa Barat.
Memasuki masa kemerdekaan pendidikan Islam masih terus berkutat dengan sistem pendidikan modern (peninggalan Belanda). Sistem pendidikan ini dipelopori oleh para tokoh pendidikan yang telah mengenyam sistem pendidikan Belanda atau Barat. Oleh karena itu, menjadi sangat masuk akal ketika sistem pendidikan nasional Indonesia berkiblat kepada sistem pendidikan Barat. Sistem pendidikan yang berkiblat pada sistem pendidikan Barat secara praktis dan teoritis berbeda dengan sistem pendidikan Islam tradisional. Dari sinilah kemudian terjadi pemisahan antara pendidikan tradisional yang dalam hal ini bias direpresentasikan oleh pendidikan Islam dan pendidikan modern yang dalam hal ini bias direpresentasikan oleh pendidikan nasional.
Kompromi yang diambil para funding father negeri ini adalah bahwa pengabaian sistem pendidikan Islam tradisional akan sangat menyakitkan umat Islam. Mengingat jasa dan pengorbanan para ulama dan santri dari trilogi sistem pendidikan Islam tersebut di atas. Pertimbangan lainnya adalah agar umat Islam memiliki lembaga pendidkkan khusus, sehingga mayoritas penduduk Indonesia tidak mengalami kekecewaan yang luar biasa kepada pemerintah. Oleh karena itu, pada masa kemerdekaan tepatnya pada 3 Januari 1946 didirikanlah Departemen Agama yang mengurusi keperluan umat Islam. Meskipun pada dasarnya Departemen Agama ini mengurusi keperluan seluruh umat beragama di Indonesia, namun melihat latar belakang pendiriannya jelas untuk mengakomodasi kepentingan dan aspirasi umat Islam sebagai mayoritas penduduk negeri ini.
Sampai pada pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru pemisahan sistem dan pengelolaan pendidikan nasional dan pendidikan Islam masih dipertahankan. Artinya adalah bahwa pengelolaan pendidikan Islam masih mengalami nasib yang tidak bagus dibanding dengan saudara mudanya, pendidikan nasional.
Demikianlah nasib perjalanan pendidikan di Indonesia yang sampai saat ini masih menduduki ranngking kurang begitu bagus dibanding negara-negara lainnya. Kurangnya perhatian pemerintah pusat dan menitikberatkan pembangunan pada sector ekonomi menyebabkan pembangunan jiwa dan mental bangsa menjadi termarjinalkan. Padahal pembangunan mental, jiwa, dan moral bangsa adalah sebuah keharusan dan keniscayaan sejarah yang tidak bisa ditawar-tawar, khususnya bagi bangsa Indonesia. Pendidikan ekonomi tanpa didukung dengan pendidikan moral yang kuat hanya akan memunculkan pemimpin-pemimpin yang berpenyakit kronis.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik, Islam dan Masyarakat, Pantulan Sejarah Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1987.
Abdullah, Taufik,  Islam dan Pembentukan Tradisi di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1989.
Anwar, Rosihan, Demi Dakwah, Bandung: Ma’arif, 1976.
Azra, Azyumardi, Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada,2005.
Badri, Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.
De Graaf,HJ & TH. Pigeaud,  Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1989.
De Graaf, HJ,  Awal Kebangkitan Mataram, Masa Pemerintahan Senopati, Jakarta: Grafiti Pers, 1987.
Hasbullah,Kapita Selekta Pendidikan Indonesia, Jakarta:PT.Grafindo Persada,1996
Machmud, Anas, Turun Naiknya Peranan Kerajaan Aceh Darussalam di Pesisir Timur Sumatera, Semarang: Al-Ma’arif, 1989.
Munawwir, Imam, Kebangkitan Islam dan Tantangan-Tantangan yang dihadapi dari Masa ke Masa, Surabaya: Bina Ilmu, 1984.
Nata, Abudin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa, 2003.
Nata, Abudin, Metodologi Studi Islam,Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1992.
Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Kencana, 2009.
S, Quthub, Islam dan Masa Depan, Kuait: Salmiyah, Box 631.
Tim Studi Islam IAIN Sunan Ampel, Pengantar Studi Islam, Surabaya: Sunan Ampel Press, 2010.
Tjandrasasmita, Uka, Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: Balai Pustaka, 1984.
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta:Hida Agung,1985.
Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta:Bumi Aksara,1997.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar